Beranda Cerita Cerita Pendek : Kebahagiaan

Cerita Pendek : Kebahagiaan

Awan putih di langit biru dengan mentari yang bersembunyi di baliknya menghangatkan tubuh ini. Diatas jerami hijau di lapangan miring ini, kubaringkan tubuh sembari mengangkat tangan seakan menyentuh langit biru. Silauan mentari kejinggaan menyadarkanku “Ah, sial sudah sore”. Ku bergegas meninggalkan tempat demi pulang ke rumah.

Kulepaskan kasut yang dari tadi membantuku untuk berlari sekencang mungkin. Rumah sederhana dengan dilengkapi kamar tidur, kamar mandi dan dapur ini menjadi tempat hidupku. Tibalah aku di sebuah tempat ternyaman di dunia ini. Yap, tempat tidur adalah jawaban yang tepat. Semua orang pun berpikiran yang sama denganku, benar kan?

Selena Rachelia, sebuah nama gadis berumur 18 tahun itu harus menjalani dunia tanpa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Keluarga baginya hanyalah teman-teman senasib yang berada di Panti Asuhan ini. Dengan bantuan seorang wanita yang sudah kuanggap ibu sendiri, aku menjadi seorang gadis kuat.

Beberapa percobaan bunuh diri sudah sering kulakukan, namun hanya dia seorang yang meyakinkanku untuk tetap berjuang dalam menjalani hidup ini.

Aku heran, mengapa ia sebaik itu? bahkan, keluargaku pun tak ada yang mau tahu tentang keadaanku. Mereka membuangku seperti sampah yang memenuhi ruangan. Sudahlah, akupun menganggap mereka seperti itu.

Namun, berbarengan dengan usiaku yang menginjak umur 16 tahun, ibuku meninggalkan kita semua. Kini, hanya tersisa beberapa kenangan yang telah ia tinggalkan. Sebuah foto berdebu yang kusimpan di dalam buku diary menjadi kenangan berharga darinya.

Senyuman manis terlukis jelas di paras indah itu. Hidung sedikit mancung dengan mata bulat melihat ke kamera seolah sedang melihatku. Tak terasa, air mata ini jatuh tanpa kusuruh. Hadeh, katanya cewek kuat.

Perpisahan memang bertujuan untuk membuat seseorang menjadi lebih maju dibandingkan sebelumnya.

Saat ini, aku pindah dari “Rumah” asalku dan merantau ke kota. Meskipun tak kuliah, aku memiliki kecerdasan yang bisa dibilang lebih dari orang lain. Maka, dari itu kuambil pekerjaan sebagai designer rumah.

Kini, kusadari kebahagiaan sejati bukanlah tentang kecerdasan ataupun kekayaan, melainkan kasih sayang dari orang-orang yang benar-benar menyayangi kita dengan sepenuh hati.

Tak terasa, secarik kertas ini sudah penuh saja. Oh iya aku lupa selain designer, menjadi penulis juga menjadi pekerjaan sampinganku. Sudah banyak orang yang menyukai ceritaku, mereka bilang cerita yang dibuatku seperti kejadian seseorang.

Haha, mereka tidak tahu bahwa cerita itu adalah kisah dari hidupku. Sudahlah itu tidak penting, yang terpenting untuk sekarang ini adalah aku harus cepat-cepat tidur. Menjalani hidup di dunia ini perlu istirahat yang panjang bukan?

(*Rnd)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here