Beranda Cerita Cerita Pendek : Paras

Cerita Pendek : Paras

Salam kutuliskan melalui tarian pena di secarik kertas usang berdebu ini. Perkenalkan, namaku Syntia. Seorang gadis yang selalu merasa dirinya tak cantik dan tak layak berada di kerumunan orang-orang. “Insecure” kata yang selalu terbenak di pikiran ku yang teramat pendek ini.
Yap, aku tahu aku tak cantik. Aku tak secantik wanita lain. Aku tak bisa menjadi wanita secantik dirimu. Tapi aku masih punya HATI ! Kau tak bisa seenaknya memanggilku dengan sebutan JELEK. Kau tahu aku masih punya HARGA DIRI ! dan kau dengan santainya menginjak-injak harga diriku dihadapan semua orang?
Lucu sekali ! Wanita mana yang menjelekan sesama wanita hanya karena parasnya yang teramat jelek untuk dilihat. Kau boleh sombong dengan paras indahmu itu, namun kau tak bisa menghina paras hasil tuhan ku ini.
Curahan hati yang teramat dalam kusampaikan melalu coretan pena ini. Tak terbendung sudah rasa sakit akibat hinaan dan cacian yang keluar dari mulut sang PARAS INDAH itu. Terkadang, aku ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, disanjung dan dipuja layaknya wanita umumnya.
Namun, sudahlah. Aku sudah tak bisa menyampaikan kekesalanku kepada kalian. Sungguh ! dunia ini begitu kejam untuk kujalankan. Mungkin, ini bukan dunia ku. Melainkan dunia milik orang yang memiliki paras indah nan hati busuk.
Terlalu banyak wanita di dunia ini yang mempunyai paras yang sangat indah namun memiliki hati yang busuk. Upss !! Mungkin aku salah. Mereka kan tak punya hati, hanyalah mempunyai paras indah yang menawan hati semua pria biadab.
Ingin rasanya aku merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah kudapatkan selama kujalani kehidupan yang pahit ini. Dunia terlalu jahat bagiku. Terlalu jahat pada orang yang memiliki paras jelek.
Sudahlah, aku tak mungkin bisa mewujudkannya. Kini, aku bahagia di alam dimana tak ada seorang pun yang berani menghina dan mencaci parasku.
Dikala hembusan nafas terakhir ini datang, aku hanya ingin menyampaikan kekesalanku saat menjalani kehidupan fana ini, dalam coretan pena di secarik kertas terakhir yang kumiliki. Pena dan secarik kertas inilah yang menjadi saksi bisu kematianku.

(*Rnd)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here