Beranda Cerita Cerita Pendek : Marissa

Cerita Pendek : Marissa

TOLONGGGGGGGG!!!!!!!!!

Suara pekikan itu sering terdengar di lorong bawah tanah rumah nenekku. Entah mengapa, ia selalu meminta tolong saat malam tiba tepatnya pukul 00.00 .Pekikan diselingi tangisan itu seakan membuatku tak bisa tidur setiap malam.

***

Salam kutuliskan melalui tarian pena di secarik kertas usang ini. Perkenalkan, namaku Nadira. Seorang perempuan yang menempati rumah aneh nan kosong.

Rumah ini merupakan Bekas tempat tinggal seorang perempuan tua yang sering kupanggil dengan sebutan “Nenek” .

Ayah ibukku meninggalkanku saat aku genap berumur 12 tahun tepat pada hari perayaan ulang tahun ku. Mereka meregang nyawa hanya karena kelalaian dalam berkendara hingga akhirnya menabrak sebuah truk besar di hadapannya.

Beranjak remaja, nenekku menyusul kepergian kedua orang tua dikarenakan sakit nya yang tak kunjung sembuh juga. Hingga pada akhirnya, aku harus bisa menjalani kehidupan ini dengan seorang diri dilengkapi rumah tua nan berdebu yang nenekku wasiatkan kepadaku.

Rumah berasitektur tahun 60-an ini seakan membawaku ke alam dimana kesederhanaan dan kebersamaan bersama keluarga masih terjalin.

Sebuah rumah yang dilengkapi dengan lorong bawah tanah dan bercat coklat kayu ini kutempati hingga umurku 18 tahun. Satu-satunya rumah yang terdapat di tengah hutan ini memberikanku sebuah rasa ketenangan sekaligus ke mistisan

Rumah yang dipenuhi akan misteri dan keanehan yang terus saja menghampiri hidupku kala ku tinggali peninggalan tempat tinggal nenekku. Aku tahu dan aku sadar bahwa aku tidak tinggal disini sendirian. Ada yang lebih dulu meninggali tempat ini, jauh dibandingkan nenekku menempatinya.

Perempuan tua yang sering mondar-mandir berkeliling seisi rumah dengan tongkat kayu nya yang mengeluarkan suara ‘tok-tok-tok’ .

Anak kecil yang terus bermain lari-larian ketika malam tiba. Dan yang lebih menyeramkan lagi adalah suara pekikan dari seorang perempuan yang meminta tolong terdengar jelas dari lorong bawah tanah rumah ini.

Tepat pukul 00.00 tiba, suara itu terus saja terdengar dan hampir setiap malam membuatku tak dapat tidur dengan nyenyak. Hingga akhirnya, ku hampiri juga lorong tua yang dipenuhi debu itu pada tepat pukul 00.01.

Dan benar saja, suara pekikan yang selama ini kudengar adalah suara dari seorang perempuan dengan rupa menyeramkan lengkap dengan pakaian yang berlumuran darah.

Perempuan itu terus saja meminta tolong kepadaku bersamaan dengan kata “Marissa” yang keluar dari mulut nya itu. Entah apa yang ia katakan selanjutnya, yang kudengar hanyalah kata “Marissa” yang mungkin saja itu adalah namanya.

Sontak aku terkejut mendengar ia menjerit begitu kerasnya saat ia menyebutkan kata “TOOLONGGG!!!” yang sontak membuatku berlari sekencang-kencangnya menuju kamar kecilku yang diselimuti rasa takut di sekujur tubuhku.

Entah apa yang terjadi semasa hidupnya. Aku terlalu takut untuk menanyakan hal tak penting itu kepadanya. Hari berlalu begitu cepatnya.

Hari itu, hari dimana ia datang ke dalam mimpi ku. Cerita pahit dan penyesalan di masa lalu membuat ia merasa tak tenang di alam sana.

Semua ia jelaskan dalam mimpi itu, dan asal kalian tahu, ia merubah wujudnya kembali seperti saat ia masih menghirup udara yang sama seperti diriku. Tak seperti rupa menyeramkan yang kulihat di lorong bawah tanah tadi.

Ia begitu cantik dan elegan dengan memakai pakaian khas tahun 60-an. Angin sepoi-sepoi membuat rambut hitam legam yang terurai nya itu berterbangan dengan indah. Cerita pahit nan menyakitkan berubah menjadi syahdu dengan senyuman manis terlukis di paras indahnya.

Ternyata selama ini, yang ia butuhkan hanyalah orang sebagai media untuk menyurahkan keluh kesah yang pernah terjadi selama ia menginjakkan kaki di muka bumi ini.

Kini, ia telah tenang di alam sana dan terbang ria bersama burung-burung mengitari angkasa hingga ia menghilang bersamaan dengan cahaya yang terdapat di tubuh idealnya.

Marissa, nama cantik seperti parasnya. Namun, hidup begitu kejam padanya. Ia adalah korban dari seorang biadab yang telah melecehkannya dengan paksa hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya saat ia mencoba untuk membuat perlawanan.

Semenjak saat itu, tak ada lagi suara pekikan terdengar di lorong bawah tanah rumah tua ini. Kini, aku sudah memiliki pengganti rumah ini yang berada tepat di tengah perkotaan.

Salam perpisahan kuucapkan kepada kalian semua yang telah merawatku selama kutinggali rumah kalian. Terima kasih. Kalian tak pernah mengganggu ku apalagi mencelakanku.

Kalian hanya butuh tempat untuk tinggal semasa masih berada di dimensi berbeda denganku. Kisah suram berakhir bahagia kutuliskan didalam kertas usang dipenuhi tarian pena ini.

Teruntuk Marissa, ku doakan kau tenang dan bahagia menjalani kehidupan yang abadi dialam sana sekaligus kepada orang yang telah melecehkan mu dapat diberikan balasan yang setimpal terhadap apa yang telah ia lakukan padamu.

(*Rnd)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here