Beranda Cerita Cerita Pendek : Insan Tak Beruntung

Cerita Pendek : Insan Tak Beruntung

A silhouette of a father and son on a golf course against a beautiful sunset. Family golf theme. Additional themes include parenting, healthy living, domestic life, bonding, children, sports, leisure, relationships, bonding, togetherness, love, support, mentor, role model, junior golf, courage, and coaching.

“Andai aku dilahirkan di keluarga kaya,”

Kalimat yang sering terlintas di benakku. Iri rasanya melihat anak seumuranku memiliki kebahagiaan materi yang tak kudapatkan. Di secarik kertas ini, kutuliskan pena ku untuk menceritakan sebuah kisah sedih kehidupanku.

Namaku Naufal, seorang pemuda yang tinggal di gubuk di kota kumuh . Gubuk ini adalah tempat pelarianku disaat hujan, panas ataupun saat mau tidur. Terkadang aku selalu bersyukur atas keaadaan ini. Namun, lambat laun rasa syukur itu sirna tergantikkan oleh rasa isi kepada orang lain.

Dengan pangan yang terbatas, aku dan adikku masih bisa hidup. Terkadang, kita harus mencuri beberapa roti di pasar untuk menyambung hidup. Bahkan, “Mandi” pun kita sudah jarang lakukan.

Tak ada yang peduli dengan kita, mungkin itu karena ayah kita adalah seorang kriminal ba**ngan yang seenaknya merenggut nyawa orang lain. Dia bekerja di sebuah organisasi khusus pembunuh bayaran. Hingga akhirnya ia meninggal karena tertangkap basah oleh polisi.

Melarikan diri sudah ia lakukan, namun nahas pelatuk dari pistol polisi menghentikkan kakinya. Tak rela dirinya mati dipenjara, akhirnya ia tancapkan senjata tajam yang dipunya ke tubuhnya sendiri. Pada akhirnya, ayahku pun mati karena beberapa organ yang rusak dan kehabisan darah.

Ibuku? Entahlah, jangankan adikku, diriku saja belum pernah melihatnya. Kata ayahku, ia adalah seorang pelacur yang bekerja di club malam. Namun, saat adikku lahir, tubuh dari ibuku sudah tidak kuat melahirkan yang berakibat hilangnya nyawanya. Beruntung, adiku sudah berhasil selamat dan masih hidup.

Aku terpaut 2 tahun dengan adiku, Fajra. Harapanku untuk tetap hidup adalah berkat Fajra. Ketika kumenangis, ia yang mengusapnya. Dengan senyuman lirihnya, hatiku berubah pikiran saat ada keinginan untuk bunuh diri.

Begitulah nasib dari orang tak beruntung yang harus hidup di dunia pahit ini. Tak ada kebahagiaan, kasih sayang ataupun materi yang didapatkan. Melainkan, cacian, hinaan dan ejekan yang selalu terlemparkan kepada kita.

Kini telah kuputuskan, aku tak kuasa melihat adiku yang harus menahan rasa lapar ini. Dengan sebilah pisau ini, kutancapkan kepada perut adiku.

“Kak…”

Sambil menahan rasa sakit, ia masih sempat untuk tersenyum padaku. Darah segar tertempel di pisau ini.

“Apa yang kulakukan,?”

Air mata ini bercucuran tak terkendali, dengan sebuah teriakan keras, kutancapkan pisau ini keperutku. “Sakit sekali,” pikirku.

Namun, sakit ini tak terbanding dengan rasa sakit yang kita rasakan apabila terus menjalani hidup ini.

“M-Maaf-kan a-k-u…” Ucapku pada Fazra.

Kini, kuharap kita mati dengan damai dan bahagia di sana tanpa ada cacian, hinaan ataupun ejekan dari orang lain.

(*Rnd)

 

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here