Beranda Cerita Cerita Pendek : 30 Jari

Cerita Pendek : 30 Jari

Salam kutuliskan melalui coretan pena di secarik kertas usang ini. Perkenalkan, namaku Aurelia Audiningrat. Seorang remaja yang hidupnya hancur hanya karena kehilangan seorang sahabat. Mungkin dari kalian ada yang memahami bagaimana sakitnya apabila kita ditinggalkan oleh sahabat tercinta untuk selama-lamanya.
Rasa sedih bercampur dengan isak tangis ini seakan tak mampu ku kendalikan. Isak tangis yang terus saja membasahi rona pipi ini. Rasa sakit yang teramat dalam kurasakan saat itu, rasa sakit yang lebih parah dari ditinggalkan oleh kekasih sendiri.
“30 Jari” itulah nama persahabatan antara aku, Jenita Lala dan Allysandra. Namun, seketika lama itu lenyap disaat Allysandra meninggalkan kita semua hanya dengan menyisakan sebuah nama yang indah.
Kini, 30 Jari hanya tinggal kenangan usang yang tak terceritakan kembali bagaimana 3 orang sahabat beradu argumen, bercanda ria hingga menangis bersama. Sungguh pedih rasanya.
“20 Jari”. Mungkin, itulah nama yang tepat untuk menggambarkan suasana saat aku dan lala bersama. Sepi dan hampa tanpa kehadiran sang Allysandra yang selalu bertingkah polos dengan paras anggunnya.
Hingga kita beranjak dewasa, nama “30 Jari” sudah hilang ditelan masa. Hanya menyisakan sebuah album kenangan usang yang dipenuhi debu dan coretan tinta hasil tarian pena yang selama ini kutuliskan bersama kenangan dan pengalaman yang telah kita lakukan bersama.
Aku hanya bisa meratapi nasib dan menjalani kehidupan seperti biasa meskipun masih terdapat luka yang teramat dalam kepada alam yang telah merenggut sahabat tercinta ku untuk ia pulangkan.
“Sudahlah, mungkin itu yang terbaik untuknya” Kalimat yang sering diucapkan lala ketika aku mengingat semua kenangan yang telah terjadi itu memberikanku semangat untuk menjalani kehidupan.
Kini, 30 Jari hanyalah sebuah nama terlupakan dari 3 orang perempuan polos yakni Jenita, Aurelia dan Allysandra. Sungguh, kenangan itu tak akan pernah tergantikan seumur hidupku. Kenangan hingga titik usiaku berakhir.
Sekarang, aku hanyalah seorang perempuan yang mendedikasikan hidupnya untuk menuliskan coretan pena di kertas usang ini, hasil dari semua kenangan yang telah terjadi selama kehidupanku di dunia yang kejam ini.

(*Rnd)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here